Kita Bertemu Di Waktu yang Salah

Kita bertemu tahun lalu. Tahun di mana saya bertubi-tubi mendapatkan masalah dan cobaan. Saat itu keadaan hati saya begitu rapuh dan goyah. Saya mencari pelarian dengan mendengarkan musik dan membaca cerita-cerita pengalaman orang lain. Sampai suatu ketika, entah bagaimana kita bisa mulai bertukar cerita hingga mengenal keperibadian satu sama  lain. Senang dan sedih hingga bertengkar hebat pun sudah kita lalui (“I’m glad we can make it”).

Saya tenggelam kedalam lautan perasaan dan manifestasi saat saya bersama kamu. Pada awalnya saya sudah memberikan red flag untuk diri saya sendiri, bahwa it’s not gonna work and end well. Saya membuat benteng yang tidak sempurna diantara kita, begitu rapuh, dan seadanya saja saya buat, padahal… saya tahu suatu hari nanti saya akan merubuhkan benteng itu untuk dekat denganmu.

Saya takut akan sakit hati, saya takut kehilangan, saya takut merasakan hal-hal seperti itu karena masa lalu yang lebih luar biasa menghancurkan hati saya sebelumnya. Sampai suatu waktu…. dengan sukarela saya merubuhkan benteng itu untuk dekat dengan kamu. Saya membatinkan kalimat-kalimat untuk membuat saya sadar dan tidak akan menyesal untuk merubuhkannya (“iya saya yakin untuk membuka hati, saya ingin bahagia, saya ingin bersama-sama untuk menjadi orang yang membawa perubahan untuk kamu, terlebih lagi saya ingin merasakan bahagia lagi, saya pantas mendapatkan rasa itu”)

Long short story, kita berada dimasa abu-abu, jenuh, kebosanan. Saya pun kebingungan, mengapa begitu cepat sudah di fase ini. Begitu banyak batasan yang sudah saya setujui pada awalnya dan mau tidak mau saya harus menerima itu, begitupun juga dengan kamu. Namun, pada masa ini saya merasa hadirnya saya hanya melengkapi kekosongan waktu kamu saja. Sedangkan saya, harapan yang saya punya saya berusaha untuk memanifestasikannya.

Tahun pun berganti, belum 1 tahun namun kita sudah serumit ini. Saya takut untuk mengutarakan, kamu hanya diam. Kita ada di persimpangan, kamu mau ke kanan dan saya mau ke kiri. Kita hanya menyapa saja. Usaha-usaha juga sudah tidak lagi diusahakan.

Awalnya saya ingin mencaci maki, mengeluarkan seluruh amarah saya, perasaan sedih dan ingin menghancurkan dan menyelesaikannya sendiri di cerita ini, tapi sampai kepada bagian akhir, muncul di perasaan saya bahwa “saya tidak menyesal dapat mengenal kamu, saya pernah mersakan bahagia, sedih bersama kamu”.

Dunia akan tetap berputar tanpa peduli dengan perasaan saya, apa lagi kamu. Saya sadar bahwa saya tidak dapat memaksakan suatu perasaan dan keadaan yang pada dasarnya hanya saya yang menginginkannya. Terima kasih buat kamu yang pernah membuat ku tertawa, bahagia, dan menangis.

Batasan-batasan itu, tidak bisa kita hindari.

Teruntuk Kamu dari Saya:
“Kamu sudah menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak mu, Kamu sudah menjadi Suami yang hebat dan dicintai oleh Istrimu, Kamu sudah menjadi teman yang setia untuk teman-teman mu, dan Kamu sudah menjadi masa lalu yang indah dan begitu sakit untuk Saya”

Teruntuk Saya dari Saya:
“By, kamu sudah berusaha untuk mengikuti ritme kehidupan dan segala waktu yang ada. By, kamu hebat, sakit itu hal yang wajar, berapa banyak momen yang kamu habiskan dengan meneteskan air mata bukanlah sia-sia, momen itulah yang membuat kamu hebat, by. By kamu pernah bahagia, kamu punya jagoan kecil yang menunggumu dirumah setiap kamu pulang kerja. By, suamimu pun masih berharap sama kamu untuk tetap terus membuat momen yang bisa dibahas diwaktu tua nanti”

Teruntuk Semesta dari Saya:
“Maafkan Saya dan Dia, saya sudah mengetahuinya dari awal bahwa harapan-harapan ini, momen-momen ini, tidak kita jalani bersama, seharusnya kita tidak bersama hanya karena keegoisan kita untuk mencari kebahagiaan. Seharusnya saya malu dan merasa menyesal, walaupun sampai saat ini saya tidak mersakan penyesalan. Saya berdosa kepada orang-orang yang mempercayai saya sepenuh hatinya. Hanya karena kebahagiaan yang tak seberapa”.

P.s: Saya dan kamu mempunyai kehidupan sendiri, kita bertemu di waktu yang salah, semoga kamu bahagia. Love you to the bottom of the sea.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *