Aku Semakin Jauh dengan Agamaku dan Emosiku Juga Tidak Stabil

Usiaku 23 tahun, anak ke-3 dari 4 bersaudara. Aku baru lulus S1 pada bulan mei 2023 lalu, di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Menjadi anak tengah cukup melelahkan, aku selalu diminta mengalah dengan kakakku karena dianggap persoalan mereka lebih penting. Aku diminta mengalah dengan adekku karena dia lebih muda dariku. Sejak SD, aku selalu mendapatkan ejekan-ejekan tentang bagian tubuhku. Hal tersebut membuatku tumbuh menjadi seseorang yang tidak cengeng karena tidak ingin ditindas, namun di sisi lain aku merasa mengasihani diriku sendiri. ketika sampai pada SMP & SMA justru ejekan-ejekan tersebut tidak lagi datang dari teman-teman, melainkan keluarga dan tetangga. Hanya karena wajahku yang penuh jerawat. Hal tersebut membuatku mencoba menyibukkan diri dengan mengikuti ekstrakulikuler dengan harapan mengulur waktu untuk pulang. Ulang tahunku setiap tahunnya selalu dilupakan, janji-janji yang diberikan padaku tak ditepati. Aku mulai merasa hidup sendirian. Aku tumbuh menjadi anak yang selalu berusaha berprestasi agar dianggap, rajin dalam membantu pekerjaan rumah, dan tak pernah meminta sesuatu hal seperti barang. aku tumbuh jadi anak yang penurut.. Sampai tiba saatnya aku mulai kuliah, aku ditolak di berbagai kampus negeri. sampai akhirnya aku memilih kuliah di kampus swasta di Yogyakarta. Harapanku adalah aku ingin jauh dari rumah, dan bisa hidup sendiri. Toh, sejak dulu memang aku sudah merasa hidup sendiri.
Semuanya berjalan lancar, btw aku masuk jurusan psikologi. Lambat laun, aku menyadari banyak hal yang ku pendam sendiri dan sampai akhirnya melukai inner child ku. dan menjadikan aku sebagai orang yang pemarah, haus kasih sayang dan perhatian, dan tidak percaya diri. sampai tiba waktunya aku melakukan konseling ke professional karena merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Semua berlalu begitu saja,.. sampai pada 2021 aku kehilangan sosok ayah. seseorang yang amat sangat ingin aku dengar pujiannya.. ayahku pergi untuk selama-lamanya. duniaku hancur seketika.. bahkan sampai detik ini. setelah itu tatanan keluargapun mulai berubah, termasuk perekonomian. aku harus berjuang menyelesaikan skripsi sambil bekerja. sampai akhirnya aku lulus dan wisuda. namun sayang, tak pernah aku bayangkan wisudaku harus kujalani seorang diri tanpa dampingan keluarga. setelahnya aku mendapatkan kerja namun dipaksa pulang kampung dengan diiming-imingi pekerjaan baru disana. setelah pulang, semua tidak sesuai rencana. aku menjadi pengangguran dan terus mendapatkan penekanan untuk bekerja, ditambah permasalahan piutang yang tiada henti. aku stress.. sampai akhirnya memutuskan ke yogyakarta dan bekerja. namun pekerjaan tersebut membuatku tidak nyaman sampai akhirnya aku resign. dan saat ini aku menjadi pengangguran dan merasa ngga punya tujuan hidup. keluargaku tidak tau, aku pendam semuanya sendiri dan hidup sendiri. aku merasa kesepian dan muak dengan hidupku. seolah ngga ada satupun hal yang sesuai harapan terjadi. aku semakin jauh dari agama dan emosiku mulai tidak stabil lagi. aku capek sampai berkali-kali berpikir untuk mengakhiri hidup. tapi kenyataannya aku masih hidup sampai saat ini dengan kondisiku yang tak kunjung membaik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *