Saya Selalu Menjadi tulang Punggung Keluarga

menurut saya ini adalah perasaan tidak nyaman yang sudah menumpuk sejak saya masih remaja. rasa tidak nyaman itu adalah rasa iri terhadap adik saya dan perasaan marah terhadap ibu saya. saya iri pada adik saya yang tidak terlalu dituntut untuk pintar karna dia gampang sakit kalo pusing tentang pelajaran. mungkin ini karna saat kecil dia pernah sakit tipes sampe susah jalan dan itu membuatnya tidak masuk sekolah selama hampir 3 bulanan. selain itu dia juga pernah sakit di paru-paru nya yang membuat dia minum obat selama 6 bulan tanpa jeda. kondisi badannya memang gampang sakit. dan sepertinya itu membuat ibu tidak tegaan terhadapnya. dulu saya pun seperti itu tidak tegaan dengannya. tapi lama-lama saya merasa ibu membedakan perlakuannya terhadap saya dan adik.
saya mulai merasa saat adik saya masih SMP. ia diperbolehkan pergi jalan-jalan bersama teman-temannya. ia diperbolehkan pacaran. dan tidak dituntut untuk mampu secara akademik di sekolah. sementara aku kebalikan dari adikku. tidak aa jaln bersama teman tidak ada pacar dan harus pintar. ibuku sangat membanggakan pendidikan akademik. jadi beliau akan senang kalau anakknya mampu lebih unggul secara akademiknya. saat adik saya SMP saya baru lulus SMA. usia kami terpaut cukup jauh (5 tahun). dan setelah lulus SMA sebelum mulai kerja saat itulah saya mulai memperhatikan perlakuan ibu saya terhadap adik saya. saat masih sekolah saat SMP ataupun saat SMA saya tidak mempermasalahkan perlakuan apapun karna saya ya hanya menurut apa kata ibu saya. setelah lulus SMA banyak hal yang tidak bisa saya terma. hal diatas hanya 2 diantaranya.
karna saya tidak dijinkan pergi bersama teman akhirnya mereka pun ggak ngajak saya kalau mau pergi, ngerasa dijauhin temen tapi saat itu saya mikirnya ya gak papa. akhirnya saya selama sekolah ya hanya fokus belajar. itu membuat say jadi kuper (kurang pergaulan) saya merasa tidak tahu apa-apa tentang dunia luar.
hal lain yang membuat saya tidak suka dengan ibu sya adalah pemaksaan beliau untuk ikut mengajar di yayasan beliau. serius saya mungkin pintar tapi saya tidak berbakat mengajar. saya merasa tidak pandai beraulsekalipun itu dengan anak-anak. saya tidak mengerti bagaimana caranya bergaul, saya kaku untuk diajak bergaul, karna sejak dulu ibu saya tidak mengijinkan saya bergaul. saya sering menyalahkan hal itu. karna kekurangan dalam bergaul ini membuat saya kesulitan bahkan sampai sekarang saya masih berusaha mengatasinya.
banyak hal yang dipaksakan ibu saya terhadap saya. diantanya harus pintar. saya suka menggambar tapi ibu saya melaran sya menggambar. walalupun akhirnya saya bisa memdaptkan uang dari menggambar itu. tapi ibu tetap tidak suka padahal ibu juga menikmati uangnya. saya menyebut ini sebagai pembatasan hobi. dan pembatasan hobi ini tidak berlaku untuk adik saya. adik saya hobi make up sejak kecil dan ibu termasuk memperbolehkan. beda ya… kalau inget rasanya pengen ngumpat. serasa hidup sebagai boneka. yang hanya diatur oleh ibu saja.
intinya saya kebagian tindakan tegas ibu saya. dan adik saya kebagian di manjakanya. hal ini terus berlanjut sampai sekarag saya usia 28 tahun adik saya usia 23 tahun. saya kebagian sebagai penanggung jawab keuangan dan adik saya bagian terima aja. saya yang bekerja untuk biaya rumah dan kuliah saya serta adik saya. dan adik saya hanya yang penting kulaih dengan nyaman. saya tau perasaan ini tuh tidak baik. inginnya saya mengikhlaskan saja. tapi bagaimana caranya? saya merasa diusia saya yang mendekati kepala tiga ini tidak pantas merasa seperti itu. tapi itu yang saya rasakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *