Kehidupan Saya Selalu Disetir Orang Tua

Halo, kak. Sebelumnya mohon maaf jika saya mengetik pesan ini terlalu panjang karena saya hanya ingin menceritakan semua masalah yang saya alami. Mungkin menurut kakak ini bukan masalah besar atau mungkin ini masalah besar.

Perkenalkan, nama saya Fa. Saya berusia 19 tahun. Saya mahasiswa yang sedang berkuliah di semester 4 saat ini. Saya tinggal bersama orang tua. Kita langsung ke inti permasalahannya saja ya, kak. Jadi gini, saya ingin hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua karena saya sudah merasa sangat malu untuk meminta uang kepada orang tua. Akhirnya pun saya berinisiatif dan memiliki keinginan untuk menghidupi diri sendiri yakni dengan mencari pekerjaan sendiri. Saya mencari pekerjaan paruh waktu. Saya melamar ke sana dan ke mari tetapi lamaran tidak direspon dan ditolak. Tibalah ada satu kesempatan di mana saya tertarik untuk mengisi paruh waktu dengan menjadi driver Maxim. Saya bertanya kepada teman saya tentang bagaimana cara mendaftarnya dan ternyata cukup mudah. Akhirnya saya tertarik dan memutuskan diri untuk mendaftar dan saya pun menjadi driver. Tetapi saya belum aktifkan order karena saya belum membeli atribut untuk menjadi driver. Tidak butuh waktu lama, orang tua saya mengetahui bahwa saya diam-diam mendaftar menjadi driver Maxim dan saya pun dimarahi habis-habisan. Dikatain, “Pekerjaan hina”, dibentak “Mikirnya kerja aja, pikirin kuliah kamu juga!!!”. Saya pun dibentak dan dimarahi habis-habisan.

Saya sebenarnya bisa membagi waktu antara kuliah dengan kerja. Saya hanya bisa berpikir, apa salahnya jika saya hidup mandiri? Sebenarnya saya sudah cukup lama tidak suka dengan orang tua saya sejak saya dipaksa dimasukkan ke dalam pesantren. Saya sebenarnya lebih menginginkan untuk bersekolah di sekolah lain. Dan benar saja, saya dirundung selama bersekolah di pesantren dan saya hanya mendapatkan trauma. Tetapi saya bisa bertahan dalam trauma selama 6 tahun. Setelah lulus, saya berpikiran agar saya tidak lagi berada di pesantren agar saya tidak merasakan kembali trauma yang sudah saya rasakan. Kemudian orang tua saya pun ingin agar saya berkuliah, saya menyetujuinya asalkan saya tidak lagi tinggal di asrama dan di pesantren karena saya memiliki trauma akibat perundungan. Bahkan orang tua saya pun mengharuskan saya masuk ke jurusan ini, jurusan ini, tetapi saya tidak menyetujuinya karena tidak sesuai dengan minat saya sendiri. Saya hanya bisa bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya mereka mau dari saya?”. Saya paling tidak suka jika disebut santri karena setiap kali saya mendengar kata tersebut, saya hanya bisa mengingat trauma yang saya rasakan.

Kemudian hal lain yang sangat membuat saya sakit hati adalah ketika saya selalu dibanding-bandingkan dengan adik saya. Adik saya selalu saja disebut-sebut lebih baik dari saya bahkan disebut-sebut dan selalu saja dipuji-puji. Sedangkan saya selalu disebut-sebut tidak pernah berpikir dewasa padahal saya hanya berbeda keinginan dengan orang tua. Tetapi, kita kembali ke pertanyaan awal, apakah salah jika saya ingin hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang tua meski saya bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja? Apakah salah jika saya memiliki cita-cita dan keinginan yang berbeda dengan keinginan orang tua? Kenapa hanya saya yang selalu disalahkan dalam segala hal? Apa yang sebenarnya orang tua saya inginkan dari saya? Jika saya selalu salah dalam segala hal, manakah yang benar? Saya sudah merasa sakit sekali dengan kekangan orang tua bahkan saya rela menyakiti diri sendiri karena saya selalu salah dalam segala hal dan saya tidak pernah benar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *