saya masih menyesali keberadaan saya di dunia ini

Kenapa manusia ditakdirkan untuk menanggung beban dunia. Saya salah satunya, hingga sekarang saya masih menyesali keberadaan saya di dunia ini. Untuk apa sebenenarnya dilahirkan apabila hanya menjadi sebatang kara. Kenappa Tuhan tega untuk menjadikan saya manusia. Rasanya dari kecil sudah sangat berat. Entah kenapa jauh dari orang tua membuat saya sangat terluka. Tapi sebelum saya merasakan itu, ada sayatan luka yang terlebih dulu menyayat hati saya. Bullying semasa sd sangat mempengaruhi saya sampai sekarang. Teringat dahulu si cengeng ini selalu menangis digoda para teman-temannya. Entah apa yang saya lakukan sehingga mendapat perlakuan demikian. Teringat dulu mulai dari verbal hingga main tangan, saya begitu rapuh. Semua anak di kelas tahu saya lah si cengeng dan semua memperlakukanku seperti itu, hanya ada beberapa anak saja yang tidak memperlakukanku seperti sampah. Namun itu hanya usaha untuk membuat saya tidak menangis, bukan membuat saya sebagai temannya. Dulu anak 2 tingkat dibawah saya saja membuat saya menangis. Sungguh malu pada saat itu dan semuanya adalah ulah dari anak kelas saya sendiri yang mengompori yang lainnya. Saya teringat saat akan mengikuti Ujian Nasional dipukul dengan clipboard kayu milik teman kelas saya. Hal seperti itu membuat saya menangis sambil mengerjakan soal UN. Bahkan saya sempat tidak ingin sekolah, dan berdiam diri di kamar karena saya takut ke sekolah. Namun saat itu mbah saya yang membujuk saya untuk kembali ke sekolah. Pada dasarnya sekolah benar-benar merusak kebahagiaan, merenggut harga diri, dan menjadikan saya seperti sampah. Perasaan itu tetap tumbuh hingga saya beranjak dewasa, bahkan apabila saya diberi kesempatan untuk balas dendam tidak akan saya sia-siakan. Saya pun ingin merenggut kebahagiaan mereka, membuat trauma, dan memberi rasa takut.
Dulu saya besar bersama dengan mbah saya sejak bayi dan sempat menjalani pengobatan selama 5 tahun. Hidup jauh dari orang tua juga membuat saya semakin terluka. Saya teringat dulu walaupun saya sangat disayang tapi justru itu menjadi pisau bermata dua yang akhirnya menusuk pada diri anda sendiri. Mereka benar-benar mengatur segala hal yang saya lakukan. Saya tidak diberikan tempat untuk saya memilih sendiri, bahkan saya hanya boleh bermain dengan anak yang mereka pikir baik. Namun itu jumlahnya sangat sedikit dan pada kenyataannya yang terlihat baik di mata mereka adalah mereka yang membuat luka dihati saya. Tapi saya adalah orang yang sangat penurut. Segala yang mereka inginkan pasti saya turuti tanpa terkecuali. Saya rela main ps sendiri karena tidak diprbolehkan bermain dengan orang lain. Saya rela tidak main karena tidak boleh keluar malam. Dan hal itu pula yang membuat luka itu semakin dalam. Hingga sekarang saya merasa benar-benar tidak memiliki teman dekat. Saya sangat iri melihat orang yang sangat menyayangi sahabatnya, saling memberi dukungan, selalu ada ketika sulit. Apabila itu terjadi, sangat membuat luka dan rasa sakit yang dalam. Saya benar-benar tidak memiliki teman dekat.
Jauh dari orang tua membuat saya merasa canggung. Anda akan merasakan orang itu bukanlah orang tua. Mereka hanya orang yang berpura-pura memberi kebahagiaan kepada anda. Saya benar-benar tidak mengenal orang tua saya. Sangat canggung untuk memulai pembicaraan.
Saya benar-benar terpuruk saat ini, tidak punya teman, tidak kenal dengan orang tua sendiri, mau kepada siapa saya mengadu? Mbah juga semakin tua, masih banyak cucu kecil yang harus untuk diurusi. Saya benar-benar kecewa dengan dunia, kenapa saya harusberdiri disini saat ini, menulis ini saat ini. Mau dibawa kemana saya ini. Seharusnya dulu saya mengalah dengan sperma-sperma lainnya. Saya lelah dengan keadaan. Saya butuh rasa sayang. Saya butuh pelukan. Semuanya hanya rasa sepi, hidup yang hampa, menjadi seorang pecundang untuk diludahi orang-orang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.