pria dengan sifat feminim . salahkah?

Hai, saya berasal dari Sumatra, saat ini saya menginjak bangku kelas 11 SMA di sekolah lumayan favorit di kota saya.
Hal ini bermula saat saya berada di sekolah dasar. Bisa dibilang saya memang feminim waktu itu, saya pun di tegur terus-menerus oleh wali kelas saya karena sifat kefeminiman ini.
Tadinya hal ini tidak membuat saya terpengaruh saat ia mengatakan “Main sama laki-laki dong, nanti ga ada kawan lho”. Tapi ternyata, prediksinya benar.
Tadinya, saya memang bisa dibilang positive vibes dan teman-teman perempuan saya menyukainya. Saya sangat seru dan lucu bagi mereka karena kefeminiman dan kecerewetan saya.
Lalu, hal ini berubah saat saya menginjak bangku SMP. Saya di bully, dicampakkan, dan dicap orang bencong. Sampai saat saya memberi pendapat saya diabaikan dikarenakan sifat saya yang kurang diterima disitu. Apalagi saya memang gendut, dekil, dan suara khas feminimnya membuat saya rendah diri.
Saya memang tadinya mempunyai banyak teman. Namun, karena kelas yang diubah setiap tahun, satu persatu menjauh dan saya sendirian. Bahkan, kawan-kawan saya benar-benar seperti orang tidak dikenal waktu itu.
Puncaknya, saat saya berada di kelas 9. Dimana seharusnya kenangan di sekolah sangat berarti, ternyata tidak.
Saya sekelas dengan teman saya yang sebut saja ‘cebol’. Saya berkata demikian karena (bukan bermaksud bodyshaming) badannya kurus, pendek, dan dekil. Sedangkan, saat itu saya bisa dibilang tinggi waktu itu.
Si cebol, adalah satu-satunya orang yang pernah membuat saya trauma bertemunya. Karenanya, saya terkadang takut melihat orang yang fisiknya mirip dengan cebol dan bergerombol bersama teman-temannya.
Saya tahu, manusia tidak ada yang sempurna, setiap orang mempunyai kekurangan masing-masing, termasuk saya. Walaupun saya bertubuh besar namun bisa dibilang hati saya ‘rapuh’ karena sering menyendiri.
Bahkan, saya iri dengan teman-teman sekelas saya yang mempunyai circle sefrekuensi. Saya selalu sendiri, tidak ada teman yang peduli.
Si cebol memang orangnya sok bandel. Dia tak segan-segan membully orang yang dicap aneh dengan dia. Saya takut karena teman-teman kelas saya lebih pro ke dia.
Suatu saat saya pernah dikatai bencong berulang-ulang dan uji kesabaran saya habis. Saya gelap mata dan disaat saya mengambil gawai saya di loker bersamaan gawai-gawai teman sekelas saya, saya mendorongnya dan memasukkan kepalanya ke loker.
Dia langsung berkata, “MAJU SINI LO BENCONG!”. Saya langsung takut dan pergi pulang.
Sesampainya dirumah, saya menangis tersedu-sedu mengingat saya diperlakukan seperti ini. Saya tak punya teman curhat, apalagi temen sefrekuensi. Saya benar-benar merasa sendiri. Sakit sekali rasanya.
Apesnya, ibu saya pulang dan langsung menanyakan saya yang terduduk merenung di pojok ruang tamu “Ada apa?”.
Hal itu membuat saya menceritakan sebagian yang saya alami di sekolah dan saya tidak berani menyertakan nama teman saya karena hal ini akan berbuntut panjang. Apalagi saya memang orangnya sangat waspada mengingat semisalnya apa yang terjadi kalau masuk sekolah yang sama lagi di SMA waktu itu (ternyata prediksi saya benar).
Saya cukup malu dan merasa lemah untuk menceritakan hal ini ke keluarga. Apalagi keluarga saya tidak mengerti apa yang saya hadapi. Ayah yang akan membentak saya sewaktu ketahuan menangis dan Ibu yang akan mengait-ngaitkan dengan agama.
Saya masuk disekolah yang sama lagi dengan cebol dikarenakan zonasi yang telah mematahkan saya masuk ke sekolah paling favorit di kota saya.
Saya benar-benar tertekan melihat bahwa cebol masuk sekolah yang sama dengan saya. Saya membayangkan bagaimana jika saya sekelas lagi dengannya dan hal apa yang saya rencanakan untuk berubah sirna.
Untungnya, hal itu tidak terjadi. Akhirnya, saya masuk kelas yang lumayan nyaman namun saya tidak bisa menerima untuk masuk sekolah ini karena saya sangat terpaksa dikarenakan sekolah saya terkenal anak-anak bandelnya yang membuat saya tidak merasa aman untuk menyusuri sekolah sendirian.
Hal ini membuat saya berubah 180°, Saya menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup, saya memang ingin begitu namun kebablasan menjadi nolep. Apalagi, teman-teman sekelas saya tidak sefrekuensi dengan saya yang tipikal curhat-curhat dengan gamers dan wibu sejati.
Saya memang bisa dibilang menjadi good-looking saat itu. Perawakan saya berubah dari bencong dekil menjadi seperti itu.
Namun, trauma yang saya alami membuat saya insecure. Bagaimana, orang-orang melihat saya saat itu, apakah kefeminiman saya terlihat? Bahkan, saya sering memikirkan suara saya yang tidak terlalu berat terdengar feminim. Apalagi, sampai sekarang jakun saya tidak terlalu menonjol.
Ya, bisa dibilang saya sukses untuk menutupi kefeminiman saya kepada orang-orang baru di sekolah saya. Sekarang, orang-orang mengenal saya pendiam, ramah, dan tertutup.
Terkadang, kecemasan itu mencuat ketika saya bertemu cebol di koridor sekolah, saya bisa merasakan jantung saya yang berdebar-debar. Saya takut akan diledekin seperti waktu itu.
Karenanya, di SMA ini saya melewati kehidupan nolep. Saya tidak mempunyai real friends untuk sharing-sharing masalah pribadi, saya tidak punya teman yang bisa diajak kemanapun tanpa menolak, apalagi teman yang sering menginap di rumah.
Keirian saya berkumpul kembali saat teman-teman saya yang berada di SMA paling favorit di kota saya membangga-banggakan kehidupan remajanya di sosial media seperti bermain, berkumpul, atau yang lainnnya.
Semoga saja saya bisa mempunyai teman yang ada disaat saya sedih dan dapat mengurangi social anxiety saya kepada orang-orang. Cukup lega saya menceritakan ini.

1 thought on “pria dengan sifat feminim . salahkah?”

  1. Rieta Kimberly

    Hai kak! Setelah curhat, kakak sudah jadi lega ya? Baguslah kalau kek gitu, curhat memang bisa sedikit meringankan beban. Menurut aku, menjadi feminim nggak salah kok! Kalau kakak menyalahkan fisik kakak sendiri berarti sama aja kan kakak menyalahkan orangtua kakak yang sudah mewariskan fisik seperti itu ke kakak?
    Aku tau kalau selalu sendirian itu bisa memberikan efek rendah diri, karena itu, berusalahan untuk melakukan hal positif untuk mengalihkan perhatian kakak, contoh nih, menanam pohon di depan rumah. Itu bukan pekerjaan yang feminim kok, hanya orang berpikiran sempit yang berpikir seperti itu. Kaarena dengan melihat tanaman yang terus bertumbuh hidup dari kedua tangan kita, membuat kita merasa istimewa. Atau mungkin, kakak memelihara binatang? seperti ikan atau anjing? bisa juga mengikuti ekstrakulikuler sesuai kemampuan kakak, misalnya musik, olahraga, dan banyak hal! Dengan semua itu, kakak bisa menepis semua hinaan orang lain tentang kakak. Karena meskipun kakak feminim atau punya suara seperti perempuan, tidak membuat kakak pantas di perlakukan seperti itu. Semangat kak! Rie mendukungmu!

Leave a Comment

Your email address will not be published.