Ma, cintai aku seperti kamu mencintai kakak

Aku cewe, umurku 20th. Dari umurku 0th-9th semuanya indah, masa kecilku ya bahagia lah selayaknya anak kecil pada umumnya. Tepat diumurku yang ke 10th, dan dihari ulang tahunku itu juga, aku mendengar obrolan nenekku dengan adiknya. Dengan jelas dia membicarakan ibuku yang suka membandingkan aku dengan kakakku (cowo), ibuku lebih sayang kakakku. Itulah kenapa anak kecil merupakan pengingat yang handal, aku mengingatnya sampai sekarang. Katanya, ayahku lebih sayang sama aku daripada kakakku. Tapi itu sama sekali gak merubah keadaan, aku anaknya aktif, dari smp, sma, aku sering ikut extrakulikuler di sekolah, namun saat aku mulai nyaman dengan semuanya, ayah dan ibu menentang. Aku lebih nurut sama mereka, aku lepas semuanya. Bukannya membanggakan diri sendiri, tapi aku sedari kecil diberi kecerdasan yang tinggi ketimbang kakakku, tapi aku gak pernah bisa dapetin dan kenali bakat aku sendiri. Karena emang dari kecil, cita” yang pengen aku raih semuanya dipatahkan sama orang tua aku. Dan berakhir lah aku sekarang, lulus sma aku tidak lanjut kuliah, aku nurut sama orang tua buat ngelanjutin bisnis mereka. Tapiii, disini aku sudah seperti budak, aku bekerja keras, kalau lagi banyak job tidur cuma 3 jam sehari, aku banting tulang, tapi aku gapernah dapetin gaji layaknya orang yang bekerja. Kalau aku minta uang sama ibuku, ujung”nya pasti ngungkit” aku yang sering minta uang, makan juga ikut siapa, dari kecil siapa yang ngurusin. Aku semakin merasa, ibu gak ikhlas membesarkan aku sampai sekarang. Padahal, aku gapernah minta uang jajan karena emang aku gapernah jajan, aku cuman minta uang kuota setiap bulan. Jajan, aku dapet uang sendiri dari kerja sampingan, online shop.
Aku sering dimarahi cuma grgr telat bangun dan gak ngebantuin masak, padahal setiap hari aku yang cuci piring, bersih” rumah, dan juga kerja. Aku rasa ini semua gak adil, kakakku cuman bisa kerja, tanpa harus repot” ngurusin rumah dan tanpa diungkit” kalau ia minta uang, tapi yang sering jadi pelampiasan emosi adalah aku.
Untuk masalah main, aku juga gatau kenapa kakakku lebih dibebaskan main dengan teman”nya, sedangkan aku, punya temen yang setia selalu ada buatku aja gaada, kalau sedihpun ya aku pendem sendiri, aku gapunya tempat untuk cerita. Orang bilang, itulah cowo, kamu kan cewe harus ada batasan buat main, tapi ini gaadil. Aku bahkan ngerasain main keluar sama temen aja gapernah. Aku selalu dirumah, jadi pembantu ibu aku.

Aku bahkan gak ngenal diriku sendiri, passion ku apa, mimpi ku seperti apa, bahkan untuk masalah jodoh, aku sendiri lebih nurut sama orang tua. Aku dijodohkan, sekarang sih masih tahap tunangan. Belum sampai ke pernikahan, aku nurut dan aku mau dijodohkan karena satu hal, aku takut kalau aku terlanjur cinta sama orang lain dan orang tuaku nentang semuanya.

Karena yang katanya, hal yang susah dikendalikan adalah cinta.

Aku bersyukur, calon suamiku merupakan pendengar yang baik, dia gak pernah lelah buat dengerin ceritaku. Ya meskipun aku masih belum bisa cerita tentang kehidupanku selama ini.

Aku yakin, suatu saat nanti ada hal yang bisa membuat orang tuaku bangga dengan adanya aku di dunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.