junior yang tidak memiliki rasa hormat

Kak.. Aku sedang sulit memaafkan junior ku di kantor.. Ingin lupa tapi terus teringat.. Biasanya aku tidak begini..
Dulu aku adalah kepala jurusan dan dia sekretaris ku, secara umur dan pengalaman dia jauh lbh muda.. Saat satu tim dia sangat baik, sopan, dan kami sangat kompak..
6 bulan kemudian saya dipromosikan menjadi wakil dekan yang membawahi beberapa jurusan, salah satunya jurusan yg dulu saya kepalai. Karena saya pindah ke Fakultas maka junior ini naik menggantikan saya menjadi kepala jurusan. Meski saya wakil dekan, saya juga tetap mengajar sbg dosen di jurusan saya.
Tapi semenjak naik sikap junior ini berubah, dia menjadi kurang respect dan hormat dgn saya.. Minta bantuan tidak sopan dan mengeluarkan kalimat mengintimidasi jika tidak membantu jurusan. Kalimat andalannya: Saya juga adalah dosen di jurusan tapi tidak mau mensupport/ membantu jurusan dan jika terdengar ke pimpinan universitas pasti saya akan kena. Awalnya saya tetap bantu kerjaan di jurusan meski secara struktural jabatan itu bukan ranah saya lagi, ranah saya di Fakultas lebih pada ‘penasehat’ bukan ‘pelaksana’ dengan pikiran supaya sama2 baik saja hubungannya.. Tapi makin lama dibiarkan sikap junior ini makin menjadi2 hingga saya merasa melakukan kerjaan admin di jurusan yg padahal posisi wakil dekan fakultas diatas jurusan.
Suatu ketika saya bicara tegas dengan dia utk pekerjaan itu next dihandle oleh Jurusan dan dikoordinir oleh dia selaku ketua jurusan. Saya tetap bersedia membantu tapi bukan untuk kerjaan admin jurusan. Lalu dia mengatai saya hal-hal negatif, tidak mau support/membantu, perhitungan kerjaan, sampai menggunakan kembali kalimat intimidasi dan tidak sopan selaku junior.. Saya merasa sangat tidak didengar dan dihormati. Entah dia pura2 bodoh atau gimana masakan dia minta “atasan” dia mengerjakan kerjaan level staff di jurusan? Dengan dalil, saya juga bagian dari jurusan karena bagian dari dosen di jurusan itu.
Sampai detik ini saya tidak bisa memaafkan dia..
Apakah karena luka dan kecewanya terlalu dalam? Atau karena harga diri yang tidak mau berdamai karena merasa sudah diremehkan, direndahkan dan tidak dihormati sebagai orang yg lebih senior? Dia sangat suka berkata mengancam dan mengintimidasi.. Sedangkan yg melakukan itu merasa dirinya benar dan korban karena saya menegaskan terkait pekerjaan, merasa dia korban yg tdk dibantu.. Dia juga tidak merasa salah apalagi minta maaf.. Bagaimana menurut kakak? Saya perlu teman untuk bertukar pikiran.. Mohon dibalas kak.. Terimakasih..

Leave a Comment

Your email address will not be published.