Aku merasakan perubahan di dalam diri ini

Saya seorang remaja berumur 15 tahun, tapi baru saja 15 tahun. Saat kecil saya adalah anak yang ceria bisa dibilang bawel. Tapi seiring waktu berjalan saya berubah menjadi seorang yang introvert. Saya tidak suka dengan keberadaan orang² saya tidak suka diajak bicara, menjawab saat ditanya adalah hal yang paling sulit dan mengganggu meski saya harus melakukannya, banyak hal yang berubah dari diri saya dan sangat drastis. Saya bahkan tidak sadar ternyata saya sudah berubah jauh. Semuanya bermula saat saya hidup terisolasi di rumah (karena suatu hal saya tidak bisa menceritakan) saya hidup sendiri tidak punya teman, saya tinggal bersama dengan keluarga saya yaitu, kakak, ayah, ibu, dan nenek. Saya merasa kesepian karena tidak punya teman dan terjadi selama bertahun-tahun, saya benci dengan diri saya, dan saya merasa sama sekali tidak berguna, saya tidak pernah mendapatkan apresiasi dari keluarga saya, saya tidak pernah mendengar kata “semangat!” Kepada saya, saya tidak pernah mendengar kata-kata itu dari mereka. Saat saya sedang berusaha mengejar mimpi saya mereka akan bersikap seolah tidak peduli, tapi saat saya mulai berhasil mereka menagih keberhasilan itu. Saya tidak suka dengan sikap mereka, tapi saya selalu memendam dan selalu bilang “ayo dukung saya, saya tak berharap pujian, saya tak berharap pengakuan, saya hanya ingin dukungan.” Itu terus terjadi berulang kali. Saya selalu berfikir, mungkin karena saya kekurangan saya terlalu besar. Jadi, apapun yang saya lakukan hasilnya tetap sama Dimata siapapun. Hingga saya berada pada titik dimana saya menganggap diri saya adalah nol. Saya merasa kosong, dan tidak punya motivasi sedikit pun, saya terus menghujat diri saya dan mengatakan kekurangan saya sebanyak apapun. Itu terjadi selama bertahun-tahun, hingga saya tumbuh remaja.

Seiring waktu saya semakin berubah. Saya menjadi diri yg introvert. Saya tidak suka berada pada keramaian, saya tidak suka diajak bicara, saya merasa terganggu jika ada orang disekitar saya meskipun itu keluarga, semakin hari saya semakin suka berada pada kesendirian. Saya merasa nyaman saat saya bisa terus diam dan sendiri.

Saya selalu menaikkan nada bicara saya saat diajak bicara dengan keluarga. Saya tidak tahu karena apa, tapi yang jelas rasanya sangat menganggu disaat seseorang mengajak saya bicara. Mungkin karena hidup bertahun-tahun tanpa berbaur dengan dunia luar, membuat saya merasa terganggu dengan kehadiran manusia bahkan keluarga saya sekalipun.

Saya yang dulu tidak suka dengan musik keras, seperti rock mulai menyukainya. Dulu saya menganggap musik rock yang semacamnya terdengar kurang enak karena itu seperti berteriak-teriak, terdengar keras, tapi entah sejak kapan saya suka dengan musik-musik yang seperti itu.

Saya yang dulu tidak suka dengan game² kekerasan, seperti laga. Sekarang sangat suka, dan tiap kali dalam situasi emosi saya suka memainkan game² keras yang bertarung, atau membunuh. Saya selalu mencari game seperti itu saat tidak tenang.

Saat puncaknya. Saat saya berumur 15 tahun. Kondisi emosi saya semakin tidak terkendali, saya semakin suka menyendiri, saya lebih suka berbicara dengan diri saya sendiri dari pada orang lain, mood saya sangat mudah berubah bahkan secara tiba-tiba.

Saat saya mendapatkan masalah dari keluarga. Malam itu saya tidak tahan untuk menangis saya menjerit tanpa suara, saya emosi dengan cara menangis sampai dada saya sesak, saya merasa agak frustasi dengan kekurangan saya, saya menganggap diri saya hanyalah seonggok beban, saya merasa tidak berguna sama sekali, saya merasa terikat oleh rasa itu berulang kali. Saya pernah mencoba menyakiti diri saya sendiri, dengan anggapan kalau saya sakiti diri saya sendiri. Saya bisa melupakan depresi saya

Saya mengalami hiperfentilasi disaat saya sedang stress. Setiap kali memikirkan permasalahan saya, tidak lama kemudian hiperfentilasi itu langsung ada. Berlangsung kadang 20 menit paling 30 menit. Saya melihat tanda-tanda hiperfentilasi yang saya alami di internet semua gejalanya sama dengan yang saya rasakan. Saya tidak memberitahu keluarga saya, tentang itu. Jadi mereka melihat kalau hidup saya tenang-tenang saja.

Akhir-akhir ini. Saya tidak begitu mengerti. Orang tua saya sedang ada masalah, ibu saya terus menceritakan kepada saya tentang rasa kesalnya terhadap ayah saya, saya tidak mengerti mereka kenapa. Ibu saya terus cerita, sampai saya juga merasa terbebani. Saya ingin mereka bicara berdua dan menyelesaikan nya dengan mudah, karena mereka sudah dewasa. Saya melihat mereka tidak ingin saling mengutarakan, jadi mereka saling diam seperti anak kecil. Ibu saya terus menceritakan tentang rasa kekesalan dia, saya tidak tahu harus jawab apa. Saya cuman bisa berkata dalam hati saya “kenapa kamu harus melibatkan saya? Apakah anak remaja seusia saya akan tenang² saja jika melihat kondisi seperti itu? Bisakah kalian menyelesaikan ini semua dengan lebih dewasa? Dan kenapa dengan ego, kenapa begitu sulit menyampingkan itu?!” Saya tidak tau ttg masalah mereka. Saya ingin masalah itu segera selesai, dan saya tidak ingin terlibat sama sekali. Tapi mereka seperti menarik saya.

Saya tidak peduli dengan mereka yg tidak pernah ingin tahu ttg depresi saya, dimana saat sedang stress saya sulit bernafas, saat saya menangis sendiri selama bertahun-tahun mereka tidak pernah tau dan mungkin mereka tidak ingin tau. Dan sekarang mereka melibatkan saya dalam masalah mereka. Saya ingin santai saya ingin sendiri, dekat dgn orang-orang hanya akan memberi saya masalah, tapi. Karena kekurangan ini membuat saya membutuhkan seseorang untuk membantu saya, saya bingung. Saya tidak tahu harus apa, haruskah saya bersikap tidak peduli dan menganggap ini semua tidak ada. Harus kah saya bersikap masa bodoh, atau terus diam memendam segalanya. Saya bingung dan ingin segera keluar dari zona ini, saya ingin melewati masa remaja seperti anak anak pada umumnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.